Entahlah,
Disisa sepertiga malam ini ada perasaan lembut yang menyusup di dalam hati.
Sebuah perasaan haru dan kebahagiaan. Haru karena melihat perjuangan dan pengorbanan seluruh relawan, donatur dan pemateri.
Bahagia karena melihat kebahagian di setiap mata dan wajah dari setiap peserta, tamu dan anak anak yatim.
Kawan, bagaimana hati ini tidak haru melihat pontang pantingya relawan mengkonsep, menyiapkan dan mengeksekusi kegiatan dengan segala kekurangan dan keterbatasan.
Siapa juga yang tidak terharu para donatur yang begitu percaya kepada kita yang bukan siapa siapa ini.
Lalu, siapa juga yang tidak terharu melihat para pemateri yg rela dan ikhlas berbagi. Rela berangkat jauh jauh dari Bandung misalnya?
Subhanallah, Allahuakbar...!!!
Kawan,
Apakah kebahagiaan itu juga hadir dalam diri kalian?
Ketika melihat wajah wajah lugu bergembira dalam setiap perlombaan. Mereka bershalawat, menggoreskan pena dan bernyanyi.
Kemudian, mentari kebahagiaan itu terang benderang dalam doa dan harapan anak anak yatim.
Kawan, Merekalah, merekalah fajar ketentraman dalam kelelahan kita semuanya.
Bahwa semua ini Allah yang menggerakan dan memberikan kekuatan. Bahwa semua ini Allah yang menguatkan dan mengistiqomahkan, bahwa semua ini Allah yang menjadi hulu dan muaranya. Lillah, Fillah...
Terima kasih, terima kasih relawan, donatur, pemateri, peserta dan semua orang yang terlibat dalam kebahagiaan ini.
Salimah,
Dalam sendu malam yang membahagiakan.
rosyad_elbantani
(Founder and Volunter Komunitas Rumah Cerdas Salimah)
Tuhan Membenci Orang Tua yang tak Taat dan Mencintai Anak Muda yang Tekun Berbuat Baik
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 03 April 2014
Perbincangan dengan Mayor (Purn) Oetarjo di Yayasan 25 Januari 1946
![]() |
| Pada bulan September 1946 Kapten Oetarjo (tanda X) menerima kedatangan Kolonel M.Simbolon dan Let.Kol Kartawirana di lapangan terbang Kemayoran jakarta. Kedatangan kedua perwira dari Sumatera ini dalam rangka perundingan militer menjelang gencatan senjata Indonesia-Belanda pada bulan Oktober 1946. (Sumber: http://sejarahkita.blogspot.com/2011/10/mayor-oetarjo-telah-tiada.html) |
Kisah ini sebenarnya sudah sangat lama, tapi belum sempat saya tulisakan. Kisah tentang sosok seorang pejuang yang membaktikan diri untuk bangsa dan negara. Kamis,
14 Oktober 2010, saya sempat berbincang dengan Mayor (Purn) Oetarjo di Yayasan
25 Januari, Jakarta. Selidik punya selidik, menurut Sejarawan Rushdy Hoesein, Perwira ini
pernah bertugas tahun 1945-1947 pada Kantor Penghubung Tentara jalan
Cilacap Jakarta. Kemudian sempat pula bergerilya di Sumatera pada sekitar tahun
1948-1949 dengan jabatan Kepala Staf sub. Ter 7 Tapanuli dibawah
panglimanya Alex Kawilarang. Dalam pertempuran sengit di sektor 3 dia tertembak
dan tertawan.
Ada
banyak hal yang saya peroleh dari perbincangan selama kurang lebih dua jam itu.
Salah satu diantaranya adalah manakala kakek yang saya taksir berusia 90
tahunan itu berkata dengan tegas:
"Kamu
harus tau dan sadar, bahwa orang indonesia itu tidaklah bodoh!!! Sebalikya jika melihat lebih dalam orang Indonesia itu sangatlah pintar"
Saya masih ingat betul beliau sangat ekpresif. Suaranya lantang, matanya tajam dan tangan
kanannya sedikit terangkat. Beberapa saat saya sempat berfikir bahwa tentara
tua ini akan menggunakan tangan rentanya untuk mencekik. Aku salah terka, ternyata tangan yang tak lagi
kokoh itu membentuk sebuah kepalan tinju. Saya baru memahami
bahwa ia mencoba membuat gesture yang bisa menguatkan
pernyataannya tadi. Beliau mencoba meyakinkan saya untuk optimis dan tidak malu menjadi orang Indonesia. Menurutnya, ketertinggalan yang bangsa ini alami saat ini bukanlah disebabkan karena kebodohan bawaan, tapi lebih karena ketidakmampuan memanfaatkan potensi sumber daya manusianya. Sebagian dari hal itu disebabkan karena sifat fesimis, minder dan rendah diri sehingga merasa dirinya akan kalah sebelum bertanding. Sifat-sifat seperti itu, menurutnya harus sesegera mungkin dihilangkan. Optimisme adalah modal awal bagi seseorang untuk maju.
Tak
sempat saya bertanya atau berkomentar, mulutnya sudah mulai bercerita kembali. Beliau
membeberkan bagaimana situasi Indoneia pada masa itu yang digambarkan sebagai kondisi no
war no peace dengan pihak Sekutu, dalam hal ini Inggris. Situasi damai yang sebenarnya hanya kamuflase dari kata bersiap perang, dimana segala
sesuatu harus dijalankan dengan cepat, tepat dan tegas. Tak ada kata santai atau berleha-leha. Segalanya harus disusun dengan sebaik dan sesempurna mungkin. Tentara tidak tahu pasti mana kawan mana lawan. Sungguh hal itu dijalankan oleh rakyat Indonesia dengan tabah dan semangat menggelora.
Tak
lama, laki-laki berambut putih ini kembali menyembur;
"Seseorang tidak akan pernah bisa maju jika tidak memiliki kepekaan terhadap sejarah. Orang yang tidak peka terhadap sejarah berarti orang tersebut tidak mengetahui jati dirinya. Bagaimana mau memajukan diri jika kita tidak mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya"
Sungguh
sebuah pertemuan yang sangat berkesan. Sayang Foto kami berdua file-nya hilang.
Dalam hati saya sangat berharap bisa memenuhi undangan beliau untuk silaturahim
ke Karawaci, tempat dimana dirinya tinggal. Belum sempat niatan itu terpenuhi, satu tahun kemudian,
tepatnya tanggal 19 Oktober 2011 jam 11.45 Mayor Oetarjo meninggal dunia. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata satu hari kemudian.
Terima kasih atas perjuangannya, atas dedikasinya, atas kepeduliannya, atas keramahannya, atas bantuannya dan atas segalanya yang bapak berikan untuk bangsa ini. Semoga Allah menerima amal kebaikan bapak dan mengampuni segala kekhilafan yang pernah dilakukan. Amin
Terima kasih atas perjuangannya, atas dedikasinya, atas kepeduliannya, atas keramahannya, atas bantuannya dan atas segalanya yang bapak berikan untuk bangsa ini. Semoga Allah menerima amal kebaikan bapak dan mengampuni segala kekhilafan yang pernah dilakukan. Amin
Senin, 17 Maret 2014
Lomba Menyanyi Diulang Tahun Rumah Dunia
![]() |
| Suasana pada saat lomba menyanyi |
Serang, (16/04) Matahari membakar
bumi, tapi 17 peserta lomba menyanyi nampak tidak memperdulikannya. Kompetisi
yang menjadi bagian dari rangkaian ulang tahun Rumah Dunia ke-12 ini berjalan
dengan meriah. Tanpa rasa takut anak-anak usia SD sampai SMP menunjukan
kemampuannya. Ada dua lagu yang harus dibawakan tiap peserta. Pertama lagu
wajib Mars Rumah Dunia dan yang kedua lagu pilihan peserta sendiri. Selain
menyanyi, aneka lomba yang diadakan adalah menggambar, acting, mengarang dan
membaca puisi.
"Dengan cara seperti ini
anak akan menemukan kembali dunianya", terang Jack Alawi (26) salah satu
relawan dan panitia kegiatan ini.
Rumah Dunia sendiri merupakan
sebuah komunitas literasi yang terletak di kampung Ciloang Kota Serang. Salah
satu pendirinya adalah Gol A Gong, seorang jurnalis dan Penulis yang melejit
namanya dengan karya Balada Si Roy. "Semoga di ulang tahun yang ke-12 ini
Rumah Dunia semakin menginspirasi". Pungkas Gol A Gong menutup obrolan
singkat kami.
Ayah Salwa
Semua
mata terpaku, terkait dalam jaring yang tak bisa dilepaskan. Sedang sebagian
lain, yang sedari tadi masih melihat kiri-kanan, mencoba mencari si sumber
suara. Jelas akupun penasaran dengan kegaduhan ini. Apa sebenarnya yang sedang
terjadi? Dan darimana suara ini berasal. Tak
perlu waktu lama bagi kami untuk menyadari ini semua. Tersangkanya ternyata seorang
laki-laki paruh baya, berbadan gempal dan berwajah ceria. Bak sutradara kondang
laki-laki ini memakai “topi copet” diatas kepalanya. Warnanya merah menyala. Didepannya
berjumel anak-anak seusia sekolah dasar. Mata mereka lekat, tak mau berpaling
barang sedetikpun. Sesekali wajah-wajah polos ini dihiasi senyum. Ekspresi lain
sejurus muncul. Ada tawa lepas, gregetan, jeritan dan penasaran. Semuanya bagai
melodi yang menyimpulkan satu hal;
antusiasme.
Kulihat
di belakangku Yehan, cerpenis muda yang karya-karyanya membuatku merinding.
Tentu bukan karena takut, tapi kemampuannya dalam mengolah konflik dan
mendeskrifsikan perasaan dari tokoh dalam ceritanyalah yang membuatku kagum.
Beberapa langkah di depan Intan, sahabatku dari Bandung dan satu orangnya duduk
lesehan. Ia nampak menikmati betul apa yang ia lihat dan dengarkan.
“Sampai
suatu hari, si pemuda tertidur dengan pulas”, laki-laki paruh baya itu
melanjutkan ceritanya. Anak-anak semakin banyak yang mendekati. Caranya
bercerita memang sungguh menarik. Ekspresinya bisa sangat kentara. Nyata betul
bahwa ia sangat menghayatinya. Beberapa kali dia menampilkan tampilan wajah
yang berbeda, disesuaikan dengan kedaan dan tokoh yang ia perankan.
Penasaran,
aku bertanya-tanya siapa laki-laki ini. Selidik punya selidik ternyata
laki-laki tadi bernama Bambang Purwanto.
Namun dirinya lebih suka disebut “Ayah Salwa”, sesuai dengan nama anak
bungsunya, Salwa. Beliau adalah salah satu perserta yang mengikuti kegiatan
Jambore Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 2014. Dalam buku tamu, tertulis namanya
sebagai pendiri TBM AS Lebakwangi, Kabupaten Bandung. “Tulisan –AS- pada –AS Lebakwangi-
itu artinya Ayah Salwa”, belum sempat aku bertanya tentang makna penamaan
ganjil itu, beliau sudah mendahului jawabnnya. Hah, benar-benar ayah yang
penyayang. Namun, saya sendiri kurang suka menamakan lembaga dengan nama
seseorang pendirinya. Saya khawatir lembaga itu nantinya terlalu identik dan
memiliki ketergantungan besar terhadap yang bersangkutan. Tapi, biarlah. Ini
hanya sekededar pendapat. Saya menyadari, secara alami, lembaga dan pendiri
serta orang yang mengisinya adalah sebuah ekosistem yang tidak mungkin bisa
dipisahkan. Lembaga harus kuat dan mapan secara managemen agar ia tidak
tergantung dengan salah satu orang. Sedangkan disisi lain seorang tokoh lembaga
juga harus memiliki kualitas yang mumpuni. Karena tokoh/ manusia akan
dipersepsikan sebagai produk dari lembaga itu. Jika tokoh/ manusianya bagus
maka lembaganya akan dianggap memang menghasilkan orang-orang berkualitas.
Selain
Ayah Salwa ada kurang lebih 100-an lebih peserta lain yang berkumpul dari
seluruh Indonesia. Kegiatan Jambore TBM ini sendiri dilaksanakan pada tanggal 20
sampai dengan 23 Februari 2014 di TBM Rumah Dunia (RD) Serang. Pendiri RD
adalah Gol A Gong, sosok yang sampai dengan tahun ini menjabat sebagai Presiden
Forum TBM Indonesia. Sejujurnya saya sendiri tidak bisa mengikuti kegiatan ini
secara penuh, tanggung jawab sebagai pendidik membuat saya hanya bisa mengikuti
dua dari total empat hari kegiatan. Maka sejak awal kedatangan, saya sudah ber-azzam untuk menyerap sebanyak mungkin
ilmu dan pengalaman baik dari pengisi acara maupun perserta lain yang hadir.
Suatu penyesalan besar jika tidak memanfaatkan kesempata langka ini.
TBM
AS Lebakwangi sendiri termasuk dalam TBM yang aktif dan berprestasi. Dari buletin
Lebakawangi
Membaca saya mendapatkan informasi bahwa TBM ini mendapatkan juara ke-2
TBM terbaik se-Jawa Barat tahun 2013. Selain itu, ada sederet kegiatan edukatif
lain selain tempat membaca yang dikembangkan. Salah satunya adalah belajar
membaca, menulis dan menghitung (CALISTUNG) untuk tingkatan Pra SD. Grafik
kedatangan pengunjunnyapun terus naik. Jika pada tahun 2012 ada kurang lebih
7000 pengunjung dan tahun 2013 bertambah sebanyak 2000 orang lagi. Maka sampai
dengan Januari 2014 ini saja sudah menyentuh angka 1400 orang.
Aku
bersyukur dan menyadari bahwa pertemuan dengan pendiri, pengelola dan relawan
TBM se-Indonesia, terutama ayah Salwa membuatku
semakin bersemangat mengembangkan TBM Rumah
Cerdas di kampung halaman, Tangerang. TBM yang masih sederhana dan kecil
sebenarnya. Tapi bukankah yang besarpun berawal dari yang kecil terlebih
dahulu?
Bismillah,
aku optimis, dengan Ridha Allah niat suci ini akan terwujud.
Senin, 03 Maret 2014
Ini Tentang Teladan Dimuda Usia
![]() |
| Para Penghapal Qur'an Muda |
Menjadi seorang teladan diusia muda itu sulit, tapi bukan mustahil.
Wahai diri, jadikan mudamu sebagai seorang pencari dan pembagi ilmu.
Bukan pencuri dan pemberdaya khilaf.
wahà i jiwa, jika kebijakanmu meneduhkan, maka lakukanlah. Namun jika kelemahanmu yg mengemuka, perbaikilah.
kita hidup karena yg Maha Hidup dan sedang berusaha untuk menghidupi kehidupan melalui kemurahan-Nya
rosyad_elbantani
Kamis, 30 Januari 2014
Kesederhanaan dari Kompleksitas Do'a
Kemarin siang,
ketika sedang ngobrol dengan Umi di teras rumah. Beliau bercerita tentang salah
satu episode kehidupanku. Sambil duduk di kursi bambu yang kubeli lebaran tahun
ini beliau bercerita bahwa Abi dan Umi yang saat itu berjualan baso acapkali menaruhku
disebuah kardus ciki (makanan ringan). Sambil mengasuhku yang terbaring umi
melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Mengupas bawang, memotongnya lalu
kemudian menggoreng. Hal ini beliau lakukan agar bisa memenuhi kebutuhan
keluarga disatu sisi dan tetap memberikan perhatian padaku disisi yang
lain.
Ternyata hal diatas
adalah jawaban dari kenapa umi acapkali menimangku dengan sebuah nyanyian;
"dus..dus..kardus,
dus..dus..kardus"
Asbabunnujul dari
lagu itu ternyata terilhami dari kisah nyata.
Aku mengernyitkan
dahi saat itu, seakan mengetahui apa yang ingin kutanyakan, umi meneruskan
kisahnya.
"saat itu
belum ada kereta dorong nak".
Akhir 80-an dan
awal 90-an kampung tempat aku dilahirkan memang masih sangat terisolir dari
hal-hal berbau modern. Listrik saja baru masuk tahun 1988, percis ketika aku
dilahirkan. Pada saat usiaku menginjak 4 tahunan memori di kepalaku masih
mengingat hanya ada dua orang di kampung yang memiliki Televisi, Ma Upik dan
Abah Uja.
Cerita umi kemudian
bergeser pada masalah cinta. Umi menasehatiku bahwa mencintai itu jangan
berlebihan, tapi proporsional. Hal itu beliau sampaikan dalam sebuah kisah
bahwa ketika aku dilahirkan ada semacam over
protektif dari keluarga.
Alasannya sangat bisa diterima. Kakak tertuaku, Siti Maryam, meninggal dunia
ketika usianya belum genap satu tahun. Sedangkan anak kedua,
Abdullah, meninggal dunia di dalam rahim umi. Alhasil aku merupakan
"anak yang sangat diharapkan". Sampai dengan usia kurang lebih 2
tahun aku bolak-balik ke Dokter. seminggu bisa 2-3 kali karena demam.Setelah
itu Umi dan Abi menyerahkanku pada Allah yang mencipta dan menyembuhkan
penyakit. Alhamdulillah sampai dengan detik ini aku jarang sekali terkena
sakit.
Cinta menurut umi
sangat sederhana.
Temukan, yakini,
jaga dan hormati.
Kamis, 09 Januari 2014
Penulis Pemalas
Kesibukan memenuhi kebutuhan keluarga akhir-akhir ini, membuat aku sedikit "berselingkuh" dari aktivitas membaca dan menulis.
Tapi apakah waktu luang menjadi jaminan bahwa kita akan semakin produktif? Benarkah?.
Bukankan banyak penulis hebat dan produktif adalah mereka yang juga berlelalah-lelah dengan kegiatannya diluar penulis? Apapun profesinya.
Jelas, ini adalah sugesti negatif yang biasa berhembus pada mereka yang amatir sepertiku.
Hah.....doanya kawan, agar terpenuhi kewajibanku, tersyukuri kenikmatanku, tergapai cita-cita baikku dan terkasihi kekasih hatiku.
Semoga penduduk bumi dan langit mengamini segala doa kita
Tapi apakah waktu luang menjadi jaminan bahwa kita akan semakin produktif? Benarkah?.
Bukankan banyak penulis hebat dan produktif adalah mereka yang juga berlelalah-lelah dengan kegiatannya diluar penulis? Apapun profesinya.
Jelas, ini adalah sugesti negatif yang biasa berhembus pada mereka yang amatir sepertiku.
Hah.....doanya kawan, agar terpenuhi kewajibanku, tersyukuri kenikmatanku, tergapai cita-cita baikku dan terkasihi kekasih hatiku.
Semoga penduduk bumi dan langit mengamini segala doa kita
Sabtu, 04 Januari 2014
Untukmu Para Penopang Kehidupan
untuk mu yang jadi
tulang punggung keluarga,
yang menjadi penolong
bagi ibu bapaknya,
yang menjadi sandaran
bagi adik-adiknya,
semoga Alloh meletakan
sayap malaikat-Nya padamu,
agar bisa menyanggamu
dikala letih,
menarikmu ketika
terjerembab,
dan membuatmu sejuk
ketika keringat perjuangan mmbasahi skujur jasad,
saudaraku..
sungguh tak ada yg tak
brmakna,
tak ada yang sia-sia,
maka teruslah berusaha
lillah..fillah..
Selasa, 17 Desember 2013
Ikatan yang Melebihi Indra
“Mereka tidak memilih dilahirkan seperti apa,
Kitalah yang bisa memilih mau memperlakukan mereka seperti apa.”
Bahwa setiap orang
memiliki ikatan, adalah benar adanya. Kadangkala ikatan itu menguatkan namun
tak jarang juga menyakitkan. Ikatan bagi manusia bak candu yang memabukan.
Ketika ditanggalkan atau dicampakan maka dia akan kehilangan arah, akan merasa
terasingkan, akan merasa tak ada dan akan merasa tak memiliki rasa. Dan,
sungguh ikatan ini membuatku banyak belajar darimu kawan.
Aku dan Saprowi adalah
contoh nyata dari sebuah ikatan yang unik. Kami berdua dibesarkan disebuah
kampung yang sama. Rumahku dan rumahnya hanya selemparan batu. Jika aku
berjalan dari pintu rumah, maka tak sampai hitungan ke-38 kakiku sudah berada
dipekarangan rumahnya. Dulu sekali, ketika belum memahami makna ulang tahun,
Ibu pernah bercerita bahwa usia Saprowi tiga tahun lebih tua dariku. Maka jika
sekarang dalam identitas KTP ku tertera tahun 1988 maka dalam identitas
bayangannya (dia tidak punya KTP) akan tertulis angka 1985.
Keseharian Saprowi
adalah mengurus kerbau keluarganya. Ketika badannnya bertambah kuat beberapa
tetangga ikut memakai jasanya untuk hal yang serupa. Diwaktu tertentu, ayahpun
sering meminta bantuannya untuk mencarikan rumput untuk pakan kerbau atau
kambing kami. Yah, walau dilahirkan dikampung, aku memang tidak terlalu intens
melakukan hal-hal seperti umumya anak-anak sebayaku. Sebuah momen yang saat ini
aku sesali karena melewatkannya begitu saja.
Dalam beberapa kesempatan
aku diajak Saprowi untuk mamandikan binatang ternak kami ke sungai. Prosesi
mengeluarkan kerbau dari kandang, menggiringnya melewati persawahan dan
mengusap serta membersihkan tubuh mereka dengan jerami merupakan sebuah simfoni
yang mengalunkan nada-nada keindahan. Ah, sungguh hebat dan terpukau aku
melihat bagaimana dia, seorang bocah kecil bisa mengatur empat sampai tujuh
ekor kerbau sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kata “diinginkannya” memang
merupakan penafsiranku sendiri. Karena Saprowi tidak pernah menceritakan secara
lisan padaku apa yang diinginkannya. Lebih tepatnya “tidak bisa”. Tuhan memang
menjadikannya istemawa semenjak lahir. Kedua telinga dan mulutnya tak bisa
dipergunakan layaknya orang kebanyakan. Ia tunarungu-tunawicara. Namun
percayalah kawan, walau begitu kami bisa saling memahami satu sama lain. Aku
dan teman-teman yang lain memanggilnya dengan sebutan “aw-aw”. Tentu
sebutan ini merujuk pada kosa kata yang bisa dia ucapkan. Oh, seandainya
telinganya bisa mendengar, mungkin sebutan ini akan membuatnya sakit. Aku
sempat menerka, mungkin dia akan sangat senang jika orang-orang memanggilnya
dengan nama pemberian orang tuanya.
Layaknya anak kampung,
aku, Saprowi dan teman-teman yang lain selalu bermain bersama. Dalam setiap permainan uucingan,
oray-orayan, ucing patung, susupaan, bebentengan, gampuh, dan gobag hampir
semua permainan itu kami memilih menjadi temannya. Dia Sangat Hebat!!. Allah
memang mengganti keterbatasannya dalam pendengaran dan pembicaraan dengan
kekuatan dan daya fisik yang jauh melebihi anak seusianya. Larinya sangat
cepat, kakinya keras laksana beton, cengkraman tangannya laksana cakar wolverine,
gocekannya ketika memegang bola tak kalah dengan bintang sepakbola Italia
Roberto Bagio. Tidak berhenti disana, etos kerja dan prinsipnya sangat luar
biasa. Jika sudah menginginkan sesuatu maka dia akan berusaha sekuat
tenaga untuk mencapainya.
Sungguh, tak akan pernah
cukup aku menggambarkan kehebatan sahabatku yang satu ini. Sayang Saprowi tidak
bisa membaca dan menulis apalagi memahami bahasa isyarat, begitupun dengan kami
teman-teman dan orang yang lebih tua darinya. Padahal dia dan orang-orang
sepertinya tidak memilih dilahirkan seperti apa. Kitalah yang sebenarnya bisa
memilih mau memperlakukan mereka seperti apa.
Suatu saat, ya suatu
saat aku ingin dia berteman dengan hurup. Agar luas dunianya, agar luas
cita-citanya, agar luas pemahamannya.
Minggu, 01 Desember 2013
Sukses adalah Hak Kita
Bismillah,
saudaraku…
sadarkah kita, bahwa sukses adalah hak saya, hak anda, hak kita semua.
tapi janganlah lupa, bahwa berusaha menjadi suksespun merupakan kewajiban saya, kewajiban anda, kewajiban kita semua.
saudaraku…
sadarkah kita, bahwa sukses adalah hak saya, hak anda, hak kita semua.
tapi janganlah lupa, bahwa berusaha menjadi suksespun merupakan kewajiban saya, kewajiban anda, kewajiban kita semua.
Sebuah kesuksesan didapat dengan caranya sendiri,
dengan keunikan dan karakter orang yang menjalaninya.
Tapi satu hal yang harus dan selalu kita yakini,
bahwa menjadi agent of change adalah kemulyaan yang luar biasa,
menjadi pewarna dalam kehidupan adalah kenikmatan yang sangat besar,
menjadi guru kehidupan adalah investasi yang menjanjikan.
Maka, mari amal kan ilmu kita,
wakafkan apa yang kita punya,
lalu tunggulah kesuksesan yang akan menghampiri
Wallahua’lam
13 Oktober 2013 Pukul
14: 31
Tekad Seorang Ikwan
Siapapun, seperti apapun dan bagaimanapun
wanita yang kucintai, belum tentu akan aku nikahi.
tapi siapapun wanita yang ku nikahi,
akan kulimpahkan segala bunga rindu padanya,
kutuntun ia dalam hidayah Tuhan
dan kutaburi setiap inci perjalananya dengan
bahasa cinta dan kasih sayang.
Insyaallah
11 Agustus 2010 pukul 10:26
Kamis, 17 Oktober 2013
Rumah itu Rumah Dunia
(Gol A Gong -empat dari kanan- bersama angota Kelas Menulis angkatan 22)
Atmosfer
keilmuan, kerja keras, perjuangan, jurnalistik, sastra, idealisme, peradaban
dan sedikit “kegilaan”. Begitu kira-kira yang bisa aku lukiskan tentang Rumah Dunia.
Sekian lama tenggelam dalam romantisme sejarah tentang kejayaan Kesultanan Banten dimasa lalu. Masyarakat
Provinsi paling barat di Pulau jawa ini kemudiaan seakan lupa untuk membangun
kejayaannya kembali. Sudah kadung tergambarkan dan lekat dalam ingatan tentang
ketertinggalan manusianya. Tidak adil memang kalau kata-kata itu dilekatkan
pada semua penduduknya. Karena masih ada sebagian dari putra Banten yang
tergerak dan bergerak untuk memajukan setidaknya asal daerahnya ini.
Rumah
dunia, ya Rumah Dunia. Tempat ini kemudian menjadi penggambaran bahwa para
pejuang itu masih ada. Bahwa Agent of
Change itu masih dilahirkan dan putra-putri terbaik bangsa ini belum punah
ditelan zaman. Disinilah harapan untuk membuat Banten lebih baik bermuara.
Bahkan tidak hanya Banten, ada arah yang terlihat oleh saya bahwa cahaya
perubahan (kearah lebih baik) ini akan terpencar serta menjadi mercusuar
peradaban keseluruh pelosok Indonesia, bahkan dunia.
Bukan,
ini bukan khayalan. Apa yang kita bicarakan ini bukan mimpi seorang
pemalas. Karena mimpi para pejuang tidak
dilakukan pada saat mata mereka tertutup. Mimpi Rumah Dunia dilakukan pada saat
mata ini terbuka. Sehingga terlihat jelas bagaimana perjuangan dalam menggapai
mimpi-mimpi itu dilakukan.
Minggu, 25 November 2012
CATATAN: HIDUP DAN BERGERAKLAH

Nyaman pada keadaan adalah penyakit,
kenapa?
Sadarlah, manakala diri ini puas dan merasa nyaman pada sebuah titik maka hal itu akan membuat segala sesuatu menjadi stagnan dan cenderung pasif
Kita akan berat untuk berusaha mencapai titik lain, titik yang sebenarnya bisa mengantar kan kiata pada kedaan yang lebih baik.
Janganlah lupa, bahwa hati, fikiran, dan tubuh bagaikan kesatuan yang tak terelakan,
untuk dapat survive mereka butuh sesuatu yang mobile,
selalu energik dan selalu aktif .
ingat, gasing itu hanya bisa berdiri manakala dia terus berputar,
ketika dia berhenti maka dirinya akan goyah, oleng dan pada akhirnya terjatuh
maka beraktifitaslah,
bergeraklah mencari tantangan,
jangan biarkan kreasimu terbentur oleh dinding kemalasan
Biarkan tubuh dan jiwa ini merasakan saripati kehidupan.
merasakan bau tanah saat hujan
atau terik surya yang membakar ,
lalu belajarlah, renungi dan bertindaklah
Ingat..!!
Dunia menunggu hasil karya-karya kita
Langganan:
Postingan (Atom)





