Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2020

Haru

Entahlah,
Disisa sepertiga malam ini ada perasaan lembut yang menyusup di dalam hati.

Sebuah perasaan haru dan kebahagiaan. Haru karena melihat perjuangan dan pengorbanan seluruh relawan, donatur dan pemateri.

Bahagia karena melihat kebahagian di setiap mata dan wajah dari setiap peserta, tamu dan anak anak yatim.

Kawan, bagaimana hati ini tidak haru melihat pontang pantingya relawan mengkonsep, menyiapkan dan mengeksekusi kegiatan dengan segala kekurangan dan keterbatasan.

Siapa juga yang tidak terharu para donatur yang begitu percaya kepada kita yang bukan siapa siapa ini.

Lalu, siapa juga yang tidak terharu melihat para pemateri yg rela dan ikhlas berbagi. Rela berangkat jauh jauh dari Bandung misalnya?
Subhanallah, Allahuakbar...!!!

Kawan,
Apakah kebahagiaan itu juga hadir dalam diri kalian?
Ketika melihat wajah wajah lugu bergembira dalam setiap perlombaan. Mereka bershalawat, menggoreskan pena dan bernyanyi.

Kemudian, mentari kebahagiaan itu terang benderang dalam doa dan harapan anak anak yatim.
Kawan, Merekalah, merekalah  fajar ketentraman dalam kelelahan kita semuanya.

Bahwa semua ini Allah yang menggerakan dan memberikan kekuatan. Bahwa semua ini Allah yang menguatkan dan mengistiqomahkan, bahwa semua ini Allah yang menjadi hulu dan muaranya. Lillah, Fillah...

Terima kasih, terima kasih relawan, donatur, pemateri, peserta dan semua orang yang terlibat dalam kebahagiaan ini.

Salimah,
Dalam sendu malam yang membahagiakan.

rosyad_elbantani
(Founder and Volunter Komunitas Rumah Cerdas Salimah)

Kamis, 03 April 2014

Perbincangan dengan Mayor (Purn) Oetarjo di Yayasan 25 Januari 1946

Pada bulan September 1946 Kapten Oetarjo (tanda X) menerima kedatangan Kolonel M.Simbolon dan Let.Kol Kartawirana di lapangan terbang Kemayoran jakarta. Kedatangan kedua perwira dari Sumatera ini dalam rangka perundingan militer menjelang gencatan senjata Indonesia-Belanda pada bulan Oktober 1946.
 (Sumber: 
http://sejarahkita.blogspot.com/2011/10/mayor-oetarjo-telah-tiada.html)
Kisah ini sebenarnya sudah sangat lama, tapi belum sempat saya tulisakan. Kisah tentang sosok seorang pejuang yang membaktikan diri untuk bangsa dan negara. Kamis, 14 Oktober 2010, saya sempat berbincang dengan Mayor (Purn) Oetarjo di Yayasan 25 Januari, Jakarta. Selidik punya selidik, menurut Sejarawan Rushdy Hoesein, Perwira ini pernah bertugas  tahun 1945-1947 pada Kantor Penghubung Tentara jalan Cilacap Jakarta. Kemudian sempat pula bergerilya di Sumatera pada sekitar tahun 1948-1949 dengan jabatan Kepala Staf sub. Ter 7 Tapanuli dibawah panglimanya Alex Kawilarang. Dalam pertempuran sengit di sektor 3 dia tertembak dan tertawan. 
Ada banyak hal yang saya peroleh dari perbincangan selama kurang lebih dua jam itu. Salah satu diantaranya adalah manakala kakek  yang saya taksir berusia 90 tahunan itu berkata dengan tegas:
"Kamu harus tau dan sadar, bahwa orang indonesia itu tidaklah bodoh!!! Sebalikya jika melihat lebih dalam orang Indonesia itu sangatlah pintar"

Saya masih ingat betul beliau sangat ekpresif. Suaranya lantang, matanya tajam dan tangan kanannya sedikit terangkat. Beberapa saat saya sempat berfikir bahwa tentara tua ini akan menggunakan tangan rentanya untuk mencekik. Aku salah terka, ternyata tangan yang tak lagi kokoh itu membentuk sebuah kepalan tinju. Saya baru memahami bahwa ia  mencoba membuat gesture yang bisa menguatkan pernyataannya tadi. Beliau mencoba meyakinkan saya untuk optimis dan tidak malu menjadi orang Indonesia. Menurutnya, ketertinggalan yang bangsa ini alami saat ini bukanlah disebabkan karena kebodohan bawaan, tapi lebih karena ketidakmampuan memanfaatkan potensi sumber daya manusianya. Sebagian dari hal itu disebabkan karena sifat fesimis, minder dan rendah diri sehingga merasa dirinya akan kalah sebelum bertanding. Sifat-sifat seperti itu, menurutnya harus sesegera mungkin dihilangkan. Optimisme adalah modal awal bagi seseorang untuk maju.

Tak sempat saya bertanya atau berkomentar, mulutnya sudah mulai bercerita kembali. Beliau membeberkan bagaimana situasi Indoneia pada masa itu yang digambarkan sebagai kondisi no war no peace dengan pihak Sekutu, dalam hal ini Inggris. Situasi damai yang sebenarnya hanya kamuflase dari kata bersiap perang, dimana segala sesuatu harus dijalankan dengan cepat, tepat dan tegas. Tak ada kata santai atau berleha-leha. Segalanya harus disusun dengan sebaik dan sesempurna mungkin. Tentara tidak tahu pasti mana kawan mana lawan.  Sungguh hal itu dijalankan oleh rakyat Indonesia dengan tabah dan semangat menggelora.
Tak lama, laki-laki berambut putih ini kembali menyembur; 
"Seseorang tidak akan pernah bisa maju jika tidak memiliki kepekaan terhadap sejarah. Orang yang tidak peka terhadap sejarah berarti orang tersebut tidak mengetahui jati dirinya. Bagaimana mau memajukan diri jika kita tidak mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya"

Sungguh sebuah pertemuan yang sangat berkesan. Sayang Foto kami berdua file-nya hilang. Dalam hati saya sangat berharap bisa memenuhi undangan beliau untuk silaturahim ke Karawaci, tempat dimana dirinya tinggal. Belum sempat niatan itu terpenuhi, satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 19 Oktober 2011 jam 11.45 Mayor Oetarjo meninggal dunia.  Beliau dimakamkan di TMP Kalibata satu hari kemudian. 

Terima kasih atas perjuangannya, atas dedikasinya, atas kepeduliannya, atas keramahannya, atas bantuannya dan atas segalanya yang bapak berikan untuk bangsa ini. Semoga Allah menerima amal kebaikan bapak dan mengampuni segala kekhilafan yang pernah dilakukan. Amin

Senin, 17 Maret 2014

Lomba Menyanyi Diulang Tahun Rumah Dunia

Suasana pada saat lomba menyanyi
Serang, (16/04) Matahari membakar bumi, tapi 17 peserta lomba menyanyi nampak tidak memperdulikannya. Kompetisi yang menjadi bagian dari rangkaian ulang tahun Rumah Dunia ke-12 ini berjalan dengan meriah. Tanpa rasa takut anak-anak usia SD sampai SMP menunjukan kemampuannya. Ada dua lagu yang harus dibawakan tiap peserta. Pertama lagu wajib Mars Rumah Dunia dan yang kedua lagu pilihan peserta sendiri. Selain menyanyi, aneka lomba yang diadakan adalah menggambar, acting, mengarang dan membaca puisi. 
"Dengan cara seperti ini anak akan menemukan kembali dunianya", terang Jack Alawi (26) salah satu relawan dan panitia kegiatan ini.
Rumah Dunia sendiri merupakan sebuah komunitas literasi yang terletak di kampung Ciloang Kota Serang. Salah satu pendirinya adalah Gol A Gong, seorang jurnalis dan Penulis yang melejit namanya dengan karya Balada Si Roy. "Semoga di ulang tahun yang ke-12 ini Rumah Dunia semakin menginspirasi". Pungkas Gol A Gong menutup obrolan singkat kami.


Ayah Salwa

Semua mata terpaku, terkait dalam jaring yang tak bisa dilepaskan. Sedang sebagian lain, yang sedari tadi masih melihat kiri-kanan, mencoba mencari si sumber suara. Jelas akupun penasaran dengan kegaduhan ini. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Dan darimana suara ini berasal. Tak perlu waktu lama bagi kami untuk menyadari ini semua. Tersangkanya ternyata seorang laki-laki paruh baya, berbadan gempal dan berwajah ceria. Bak sutradara kondang laki-laki ini memakai “topi copet” diatas kepalanya. Warnanya merah menyala. Didepannya berjumel anak-anak seusia sekolah dasar. Mata mereka lekat, tak mau berpaling barang sedetikpun. Sesekali wajah-wajah polos ini dihiasi senyum. Ekspresi lain sejurus muncul. Ada tawa lepas, gregetan, jeritan dan penasaran. Semuanya bagai melodi yang  menyimpulkan satu hal; antusiasme.

Kulihat di belakangku Yehan, cerpenis muda yang karya-karyanya membuatku merinding. Tentu bukan karena takut, tapi kemampuannya dalam mengolah konflik dan mendeskrifsikan perasaan dari tokoh dalam ceritanyalah yang membuatku kagum. Beberapa langkah di depan Intan, sahabatku dari Bandung dan satu orangnya duduk lesehan. Ia nampak menikmati betul apa yang ia lihat dan dengarkan.

“Sampai suatu hari, si pemuda tertidur dengan pulas”, laki-laki paruh baya itu melanjutkan ceritanya. Anak-anak semakin banyak yang mendekati. Caranya bercerita memang sungguh menarik. Ekspresinya bisa sangat kentara. Nyata betul bahwa ia sangat menghayatinya. Beberapa kali dia menampilkan tampilan wajah yang berbeda, disesuaikan dengan kedaan dan tokoh yang ia perankan.

Penasaran, aku bertanya-tanya siapa laki-laki ini. Selidik punya selidik ternyata laki-laki tadi  bernama Bambang Purwanto. Namun dirinya lebih suka disebut “Ayah Salwa”, sesuai dengan nama anak bungsunya, Salwa. Beliau adalah salah satu perserta yang mengikuti kegiatan Jambore Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 2014. Dalam buku tamu, tertulis namanya sebagai pendiri TBM AS Lebakwangi, Kabupaten Bandung. “Tulisan –AS- pada –AS Lebakwangi- itu artinya Ayah Salwa”, belum sempat aku bertanya tentang makna penamaan ganjil itu, beliau sudah mendahului jawabnnya. Hah, benar-benar ayah yang penyayang. Namun, saya sendiri kurang suka menamakan lembaga dengan nama seseorang pendirinya. Saya khawatir lembaga itu nantinya terlalu identik dan memiliki ketergantungan besar terhadap yang bersangkutan. Tapi, biarlah. Ini hanya sekededar pendapat. Saya menyadari, secara alami, lembaga dan pendiri serta orang yang mengisinya adalah sebuah ekosistem yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Lembaga harus kuat dan mapan secara managemen agar ia tidak tergantung dengan salah satu orang. Sedangkan disisi lain seorang tokoh lembaga juga harus memiliki kualitas yang mumpuni. Karena tokoh/ manusia akan dipersepsikan sebagai produk dari lembaga itu. Jika tokoh/ manusianya bagus maka lembaganya akan dianggap memang menghasilkan orang-orang berkualitas.

Selain Ayah Salwa ada kurang lebih 100-an lebih peserta lain yang berkumpul dari seluruh Indonesia. Kegiatan Jambore TBM ini sendiri dilaksanakan pada tanggal 20 sampai dengan 23 Februari 2014 di TBM Rumah Dunia (RD) Serang. Pendiri RD adalah Gol A Gong, sosok yang sampai dengan tahun ini menjabat sebagai Presiden Forum TBM Indonesia. Sejujurnya saya sendiri tidak bisa mengikuti kegiatan ini secara penuh, tanggung jawab sebagai pendidik membuat saya hanya bisa mengikuti dua dari total empat hari kegiatan. Maka sejak awal kedatangan, saya sudah ber-azzam untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu dan pengalaman baik dari pengisi acara maupun perserta lain yang hadir. Suatu penyesalan besar jika tidak memanfaatkan kesempata langka ini.  

TBM AS Lebakwangi sendiri termasuk dalam TBM yang aktif dan berprestasi. Dari buletin Lebakawangi Membaca saya mendapatkan informasi bahwa TBM ini mendapatkan juara ke-2 TBM terbaik se-Jawa Barat tahun 2013. Selain itu, ada sederet kegiatan edukatif lain selain tempat membaca yang dikembangkan. Salah satunya adalah belajar membaca, menulis dan menghitung (CALISTUNG) untuk tingkatan Pra SD. Grafik kedatangan pengunjunnyapun terus naik. Jika pada tahun 2012 ada kurang lebih 7000 pengunjung dan tahun 2013 bertambah sebanyak 2000 orang lagi. Maka sampai dengan Januari 2014 ini saja sudah menyentuh angka 1400 orang.

Aku bersyukur dan menyadari bahwa pertemuan dengan pendiri, pengelola dan relawan TBM se-Indonesia, terutama ayah Salwa membuatku semakin bersemangat mengembangkan TBM  Rumah Cerdas di kampung halaman, Tangerang. TBM yang masih sederhana dan kecil sebenarnya. Tapi bukankah yang besarpun berawal dari yang kecil terlebih dahulu?
Bismillah, aku optimis, dengan Ridha Allah niat suci ini akan terwujud.


Senin, 03 Maret 2014

Ini Tentang Teladan Dimuda Usia


Para Penghapal Qur'an Muda


Menjadi seorang teladan diusia muda itu sulit, tapi bukan mustahil. 

Wahai diri, jadikan mudamu sebagai seorang pencari dan pembagi ilmu.
Bukan pencuri dan pemberdaya khilaf.



wahài jiwa, jika kebijakanmu meneduhkan, maka lakukanlah. Namun jika kelemahanmu yg mengemuka, perbaikilah.



kita hidup karena yg Maha Hidup dan sedang berusaha untuk menghidupi kehidupan melalui kemurahan-Nya



rosyad_elbantani

Kamis, 30 Januari 2014

Kesederhanaan dari Kompleksitas Do'a


Kemarin siang, ketika sedang ngobrol dengan Umi di teras rumah. Beliau bercerita tentang salah satu episode kehidupanku. Sambil duduk di kursi bambu yang kubeli lebaran tahun ini beliau bercerita bahwa Abi dan Umi yang saat itu berjualan baso acapkali menaruhku disebuah kardus ciki (makanan ringan). Sambil mengasuhku yang terbaring umi melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Mengupas bawang, memotongnya lalu kemudian menggoreng. Hal ini beliau lakukan agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga disatu sisi dan tetap memberikan perhatian padaku disisi yang lain. 

Ternyata hal diatas adalah jawaban dari kenapa umi acapkali menimangku dengan sebuah nyanyian;
"dus..dus..kardus, dus..dus..kardus"
Asbabunnujul dari lagu itu ternyata terilhami dari kisah nyata. 
Aku mengernyitkan dahi saat itu, seakan mengetahui apa yang ingin kutanyakan, umi meneruskan kisahnya.
"saat itu belum ada kereta dorong nak". 
Akhir 80-an dan awal 90-an kampung tempat aku dilahirkan memang masih sangat terisolir dari hal-hal berbau modern. Listrik saja baru masuk tahun 1988, percis ketika aku dilahirkan. Pada saat usiaku menginjak 4 tahunan memori di kepalaku masih mengingat hanya ada dua orang di kampung yang memiliki Televisi, Ma Upik dan Abah Uja. 
Cerita umi kemudian bergeser pada masalah cinta. Umi menasehatiku bahwa mencintai itu jangan berlebihan, tapi proporsional. Hal itu beliau sampaikan dalam sebuah kisah bahwa ketika aku dilahirkan ada semacam over protektif dari keluarga. Alasannya sangat bisa diterima. Kakak tertuaku, Siti Maryam, meninggal dunia ketika usianya belum genap satu tahun. Sedangkan anak kedua, Abdullah, meninggal dunia di dalam rahim umi. Alhasil aku merupakan "anak yang sangat diharapkan". Sampai dengan usia kurang lebih 2 tahun aku bolak-balik ke Dokter. seminggu bisa 2-3 kali karena demam.Setelah itu Umi dan Abi menyerahkanku pada Allah yang mencipta dan menyembuhkan penyakit. Alhamdulillah sampai dengan detik ini aku jarang sekali terkena sakit. 

Cinta menurut umi sangat sederhana. 
Temukan, yakini, jaga dan hormati. 


Kamis, 09 Januari 2014

Penulis Pemalas

Kesibukan memenuhi kebutuhan keluarga akhir-akhir ini, membuat aku sedikit "berselingkuh" dari aktivitas membaca dan menulis.
Tapi apakah waktu luang menjadi jaminan bahwa kita akan semakin produktif? Benarkah?.
Bukankan banyak penulis hebat dan produktif adalah mereka yang juga berlelalah-lelah dengan kegiatannya diluar penulis? Apapun profesinya.
Jelas, ini adalah sugesti negatif yang biasa berhembus pada mereka yang amatir sepertiku.
Hah.....doanya kawan, agar terpenuhi kewajibanku, tersyukuri kenikmatanku, tergapai cita-cita baikku dan terkasihi kekasih hatiku.
Semoga penduduk bumi dan langit mengamini segala doa kita

Sabtu, 04 Januari 2014

Untukmu Para Penopang Kehidupan


untuk mu yang jadi tulang punggung keluarga,
yang menjadi penolong bagi ibu bapaknya,
yang menjadi sandaran bagi adik-adiknya,
semoga Alloh meletakan sayap malaikat-Nya padamu,
agar bisa menyanggamu dikala letih,
menarikmu ketika terjerembab,
dan membuatmu sejuk ketika keringat perjuangan mmbasahi skujur jasad,
saudaraku..
sungguh tak ada yg tak brmakna,
tak ada yang sia-sia,
maka teruslah berusaha
lillah..fillah..


Selasa, 17 Desember 2013

Ikatan yang Melebihi Indra


“Mereka tidak memilih dilahirkan seperti apa,
Kitalah yang bisa memilih mau memperlakukan mereka seperti apa.”

Bahwa setiap orang memiliki ikatan, adalah benar adanya. Kadangkala ikatan itu menguatkan namun tak jarang juga menyakitkan. Ikatan bagi manusia bak candu yang memabukan. Ketika ditanggalkan atau dicampakan maka dia akan kehilangan arah, akan merasa terasingkan, akan merasa tak ada dan akan merasa tak memiliki rasa. Dan, sungguh ikatan ini membuatku banyak belajar darimu kawan.

Aku dan Saprowi adalah contoh nyata dari sebuah ikatan yang unik. Kami berdua dibesarkan disebuah kampung yang sama. Rumahku dan rumahnya hanya selemparan batu. Jika aku berjalan dari pintu rumah, maka  tak sampai hitungan ke-38 kakiku sudah berada dipekarangan rumahnya. Dulu sekali, ketika belum memahami makna ulang tahun, Ibu pernah bercerita bahwa usia Saprowi tiga tahun lebih tua dariku. Maka jika sekarang dalam identitas KTP ku tertera tahun 1988 maka dalam identitas bayangannya (dia tidak punya KTP) akan tertulis angka 1985.  

Keseharian  Saprowi adalah mengurus kerbau keluarganya. Ketika badannnya bertambah kuat beberapa tetangga ikut memakai jasanya untuk hal yang serupa. Diwaktu tertentu, ayahpun sering meminta bantuannya untuk mencarikan rumput untuk pakan kerbau atau kambing kami. Yah, walau dilahirkan dikampung, aku memang tidak terlalu intens melakukan hal-hal seperti umumya anak-anak sebayaku. Sebuah momen yang saat ini aku sesali karena melewatkannya begitu saja.

Dalam beberapa kesempatan aku diajak Saprowi untuk mamandikan binatang ternak kami ke sungai. Prosesi mengeluarkan kerbau dari kandang, menggiringnya melewati persawahan dan mengusap serta membersihkan tubuh mereka dengan jerami merupakan sebuah simfoni yang mengalunkan nada-nada keindahan. Ah, sungguh hebat dan terpukau aku melihat bagaimana dia, seorang bocah kecil bisa mengatur empat sampai tujuh ekor kerbau sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kata “diinginkannya” memang merupakan penafsiranku sendiri. Karena Saprowi tidak pernah menceritakan secara lisan padaku apa yang diinginkannya. Lebih tepatnya “tidak bisa”. Tuhan memang menjadikannya istemawa semenjak lahir. Kedua telinga dan mulutnya tak bisa dipergunakan layaknya orang kebanyakan. Ia tunarungu-tunawicara. Namun percayalah kawan, walau begitu kami bisa saling memahami satu sama lain. Aku dan teman-teman yang lain memanggilnya dengan sebutan “aw-aw”.  Tentu sebutan ini merujuk pada kosa kata yang bisa dia ucapkan. Oh, seandainya telinganya bisa mendengar, mungkin sebutan ini akan membuatnya sakit. Aku sempat menerka, mungkin dia akan sangat senang jika orang-orang memanggilnya dengan nama pemberian orang tuanya.

Layaknya anak kampung, aku, Saprowi dan teman-teman yang lain selalu bermain bersama. Dalam setiap permainan uucingan, oray-orayan, ucing patung, susupaan, bebentengan, gampuh, dan gobag hampir semua permainan itu kami memilih menjadi temannya. Dia Sangat Hebat!!. Allah memang mengganti keterbatasannya dalam pendengaran dan pembicaraan dengan kekuatan dan daya fisik yang jauh melebihi anak seusianya. Larinya sangat cepat, kakinya keras laksana beton, cengkraman tangannya laksana cakar wolverine, gocekannya ketika memegang bola tak kalah dengan bintang sepakbola Italia Roberto Bagio. Tidak berhenti disana, etos kerja dan prinsipnya sangat luar biasa.  Jika sudah menginginkan sesuatu maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya.

Sungguh, tak akan pernah cukup aku menggambarkan kehebatan sahabatku yang satu ini. Sayang Saprowi tidak bisa membaca dan menulis apalagi memahami bahasa isyarat, begitupun dengan kami teman-teman dan orang yang lebih tua darinya. Padahal dia dan orang-orang sepertinya tidak memilih dilahirkan seperti apa. Kitalah yang sebenarnya bisa memilih mau memperlakukan mereka seperti apa.

Suatu saat, ya suatu saat aku ingin dia berteman dengan hurup. Agar luas dunianya, agar luas cita-citanya, agar luas pemahamannya.


Minggu, 01 Desember 2013

Sukses adalah Hak Kita


Bismillah,
saudaraku…
sadarkah kita, bahwa sukses adalah hak saya, hak anda, hak kita semua.
tapi janganlah lupa, bahwa berusaha menjadi suksespun merupakan kewajiban saya, kewajiban anda, kewajiban kita semua.

Sebuah kesuksesan didapat dengan caranya sendiri,
dengan keunikan dan karakter orang yang menjalaninya.

Tapi satu hal yang harus dan selalu kita yakini,
bahwa menjadi agent of change adalah kemulyaan yang luar biasa,
menjadi pewarna dalam kehidupan adalah kenikmatan yang sangat besar,
menjadi guru kehidupan adalah investasi yang menjanjikan.

Maka, mari amal kan ilmu kita,
wakafkan apa yang kita punya,
lalu tunggulah kesuksesan yang akan menghampiri
Wallahua’lam
13 Oktober 2013 Pukul 14: 31


Tekad Seorang Ikwan


Siapapun, seperti apapun dan bagaimanapun wanita yang kucintai, belum tentu akan aku nikahi.
tapi siapapun wanita yang ku nikahi,
akan kulimpahkan segala bunga rindu padanya,
kutuntun ia dalam hidayah Tuhan
dan kutaburi setiap inci perjalananya dengan bahasa cinta dan kasih sayang.
Insyaallah
11 Agustus 2010 pukul 10:26


Kamis, 17 Oktober 2013

Rumah itu Rumah Dunia


(Gol A Gong -empat dari kanan- bersama angota Kelas Menulis angkatan 22)
Atmosfer keilmuan, kerja keras, perjuangan, jurnalistik, sastra, idealisme, peradaban dan sedikit “kegilaan”. Begitu kira-kira yang bisa aku lukiskan tentang Rumah Dunia. Sekian lama tenggelam dalam romantisme sejarah tentang kejayaan  Kesultanan Banten dimasa lalu. Masyarakat Provinsi paling barat di Pulau jawa ini kemudiaan seakan lupa untuk membangun kejayaannya kembali. Sudah kadung tergambarkan dan lekat dalam ingatan tentang ketertinggalan manusianya. Tidak adil memang kalau kata-kata itu dilekatkan pada semua penduduknya. Karena masih ada sebagian dari putra Banten yang tergerak dan bergerak untuk memajukan setidaknya asal daerahnya ini.
Rumah dunia, ya Rumah Dunia. Tempat ini kemudian menjadi penggambaran bahwa para pejuang itu masih ada. Bahwa Agent of Change itu masih dilahirkan dan putra-putri terbaik bangsa ini belum punah ditelan zaman. Disinilah harapan untuk membuat Banten lebih baik bermuara. Bahkan tidak hanya Banten, ada arah yang terlihat oleh saya bahwa cahaya perubahan (kearah lebih baik) ini akan terpencar serta menjadi mercusuar peradaban keseluruh pelosok Indonesia, bahkan dunia.
Bukan, ini bukan khayalan. Apa yang kita bicarakan ini bukan mimpi seorang pemalas.  Karena mimpi para pejuang tidak dilakukan pada saat mata mereka tertutup. Mimpi Rumah Dunia dilakukan pada saat mata ini terbuka. Sehingga terlihat jelas bagaimana perjuangan dalam menggapai mimpi-mimpi itu dilakukan.

Minggu, 25 November 2012

CATATAN: HIDUP DAN BERGERAKLAH



Nyaman pada keadaan adalah penyakit,
kenapa?
Sadarlah, manakala diri ini puas dan merasa nyaman pada sebuah titik maka hal itu akan membuat segala sesuatu menjadi stagnan dan cenderung pasif
Kita akan berat untuk berusaha mencapai titik lain, titik yang sebenarnya bisa mengantar kan kiata pada kedaan yang lebih baik.
Janganlah lupa, bahwa hati, fikiran, dan tubuh bagaikan kesatuan yang tak terelakan,
untuk dapat survive mereka butuh sesuatu yang mobile,
selalu energik dan selalu aktif .
ingat, gasing itu hanya bisa berdiri manakala dia terus berputar,
ketika dia berhenti maka dirinya akan goyah, oleng dan pada akhirnya terjatuh
maka beraktifitaslah,
bergeraklah mencari tantangan,
jangan biarkan kreasimu terbentur oleh dinding kemalasan
Biarkan tubuh dan jiwa ini merasakan saripati kehidupan.
merasakan bau tanah saat hujan
atau terik surya yang membakar ,
lalu belajarlah, renungi dan bertindaklah
Ingat..!!
Dunia menunggu hasil karya-karya kita