Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2020

Tak Sekedarnya



Lihatlah, lihatlah, bukankah perkara cinta adalah tentang dia yg mau membuka tuk tak sekedar mata,

Selayaknya angkasa yang terbuka diantara gulita,
Ia merelakan dirinya dinikmati,
Tapi tak mengijinkan untuk dimiliki,

Tak ada dari cinta yang pantas kau untuk mengemisinya,
Jikapun harus mengemis, dan itu memang seharusnya,
Maka sang Maha Cintalah pangkal muaranya,

rosyad_elbantani

Jawaban

Jawaban

Sesubuh di puncak gunung bisalah berbeda,
Meratapi awan yang berarak pun mungkin tak berguna,
Semua bisa kembali pada makna, 
Yang terlipat pada simpul keabadian,

Lalu, seumpama raja yang bertahta,
Ia pun kadang bertanya, atau mungkin seringkali,

Dan Saatnya kali ini pertanyaan itu diungkapkan, walau kadang itu tak memerlukan jawaban

Rosyad_elbantani

Rabu, 07 Januari 2015

Juli dan Deseember Kehidupan

Juli…Kini kau siap pergi, melepaskan tangkai pertangkai jati dirimu…
Juli, kini sejatinya aku mengerti, bahwa menuntutmu berarti menuntut kesalehan keimamanku…
Juli, kini tangkai yang kau lepas kembali padaku, berserakan dan mengotori halaman rumahku…

Juli, saat tiba kau benar-benar pergi, kuharap tangkai tu tegak berdiri, agar tak mati terpanggang mentari…
Juli, kini kisahku dengan juni dimulai pada Agustus ini…
Semoga kelak tangkai itu berbunga, dan menguapkan aroma cinta yang harum mewangi…
Nanti, pada Desember kehdupanku

Kamis, 09 Januari 2014

Penulis Pemalas

Kesibukan memenuhi kebutuhan keluarga akhir-akhir ini, membuat aku sedikit "berselingkuh" dari aktivitas membaca dan menulis.
Tapi apakah waktu luang menjadi jaminan bahwa kita akan semakin produktif? Benarkah?.
Bukankan banyak penulis hebat dan produktif adalah mereka yang juga berlelalah-lelah dengan kegiatannya diluar penulis? Apapun profesinya.
Jelas, ini adalah sugesti negatif yang biasa berhembus pada mereka yang amatir sepertiku.
Hah.....doanya kawan, agar terpenuhi kewajibanku, tersyukuri kenikmatanku, tergapai cita-cita baikku dan terkasihi kekasih hatiku.
Semoga penduduk bumi dan langit mengamini segala doa kita

Selasa, 17 Desember 2013

MUSTOFA


rentang waktu berkelana,
melesat,
melebat zaman yang terus bergelora,
di titik jauh sang pendosa merana,
melesat,
melebat dalam riak - riak dosa,
detik ini, sang pendosapun merana,
meratap, melenguh, mencari kehaqiqian yang hilang dalam lekuk perjalanannya,
oh diri, dimanakah kau berada?
disudut mana kau akan bersembunyi?
sampai titik mana kau akan lari ?
tak rindukah kau akan syafa'atnya ?
atau tak inginkah kau mengharap cahaya kasihnya ?
lalu sampai kapan kau akan mengkhianati cinta Sang Mustafa?
Rabb...
saat ini sang pendosa bersimpuh,
menyepuh dosa dengan do'a ...
melebur kufur dengan syukur...
untuk kemudian berharap bersama dengannya
mereguk keindahan cinta-Mu
duhai Sang Maha Pencinta


Dalam Keheningan



dalam keheningan, disanalah aku
dalam bilik bambu, terdengkurlah aku
dalam cuap dunia, bersembunyilah aku
dalam hingar pesta, tertahanlah aku

pemahaman hidup menyadarkan diri
bahwa kita Tidaklah Sendiri
akan Selalu ada Cinta dari Sang Maha Pencinta

cinta bukanlah kabut yang membohongi
bukan pula dering yang memekikan
Entah kenapa,
terlalu sulit bagiku untuk mendefinisikan cinta

yang aku tau cinta tak membuat hitam menjadi putih
tidak pula merubah racun menjadi madu..
tapi cinta menghapus hitam tuk kemudian dibaur putih
dan membuang racun tuk seteguk madu

Oh wahai dari segala wahai
tiap kali hamba bersujud padamu
tak ada lain yang hamba pinta kecuali ridho Mu
karena hanya dengan keridhoanmu lah
diri ini dapat mereguk manisnya cinta Mu

AKU MABUK


Aku dalam kesendirianku,
bagai seonggok kayu dalam gunungan batu kerikil.
Aku dalam kebodohanku,
bagai itik dibelenggu Singa.
Aku dalam keterbatasanku,
bagai bahtera yang terombang-ambing tak tau arah.
Aku membuat aku malu,
aku dan kelemahanku,
aku dan rasa sombongku,
aku dan penyesalanku,
aku berbicara tentang diriku,
dalam renungan taubatku,
Oh diri,
TUHAN TAHU, TAPI MENUNGGU


Gadis di Seberang Sungai





kulitnya pucat, meranggas menahan rindu pada sosok di seberang sungai.
entah siapa dia memancarkan pesona disana,
jilbabnya tergurai,
gamisnya melambai,
membuat mata yang memandang tertunduk kagum dan malu pada yang menciptanya,
kini gadis itu hanyut bersama deras sungai dimusim hujan,
meninggalkan kelu dan harapan bagi pujangga yang mendamba..
entah, entah bagaimana lagi pujngga itu bersyair,
jika tinta kerinduannya melepuh bersama hati yang terbakar,
entah, entah bagaimana lagi pujangga itu besenandung,
jika melodi kehidupannya terkubur kerak ketidak pastian,
entah, entah bagaimana lagi.....

Senin, 09 Desember 2013

Ratu, iTu Bagus…???


Istana terbangun batu memedih,
Dibawah pondasi hormat penjilat,
Tunduk meng-iya-kan titah,
Lari meninggalkan amanah.

Rakyat tumbuh separuh jalan,
Tergeletak dikelam peradaban,
Tertatih dalam gontai kemakmuran,
Tertipu senyum palsu sang pemangku,
“Ratu, iTu Bagus?”

Putra mahkota berkembang remaja,
Bergeliat dari dasar ketakutan,
Terlihat gembira disudut indrawi,
Berdiri bak mercusuar di tepi daratan,
Kokoh!
“Ratu, iTu Bagus?”

Tangannya menunjuk tajam tak berpenghalang,
Menyorot anak tetangga di negeri seberang,
Bercumbu dengan kekuasaan, yang raganya sejahtera, jiwanya terdamaikan,
Alam, rakyat dan setanpun bernada sumbang,
Bertanya pada Bunda penunjuk asa.
“Ratu, iTu Bagus?”.
Entahlah.




Minggu, 01 Desember 2013

Seretan Ilmu


Sahabat....
nun jauh diujung sana,
lautan ilmu menunggu untuk kita selami.
berjuta keindahan dan kemulyaan tersembunyi didalamnya.

siapkah kita untuk melebur diri?
berlari menyongsong impian itu,
mencoba berpeluh ketika yang lain berleha?

atau kita akan sama seperti mereka?
yang diam pada takdir perenggut diri?
pasrah pada ketidak mampuan dan lari dari kenyataan?

tidak,,,
tidak seperti itu sahabat,
boleh saja kaki ini lusuh,
kulit ini melepuh,
tapi jangan biarkan hati kita menjadi keruh,
yang pada akhirnya melebur semua asa dan harapan.

bermimpilah,
bertekadlah, 
dan perjuangkanlah,
selamilah ilmu dengan akal  yang Allah karuniakan kepada kita,
janganlah merasa putus asa, apa lagi terhina.

ingatlah..!!
tak ada nista dari orang yang haus akan ilmu dan kebesaran-Nya.
Wallahua'lam
21 September 2010 pukul 0:55


Untuk Calon Istriku


Rabb..lindungilah hamba dari fitnah wanita,
dan begitupun dengan calon istriku.
dalam hati aku bertekad hanya akan mencintai perempuan yang menjadi istri ku, bukan yang lain.
kalau ternyata yang menjadi istriku adalah gadis itu, maka jagalah dia, jagalah aku.
karena dialah orang yang akan saya limpahi segenap cinta dan kasih sayang yang saya miliki.
tapi siapapun dia yang menadi istriku, semoga kelak aku bisa membahagiakannya dan menggenggam tangannya erat-erat memasuki pintu surga.
tempat paling indah tuk orang-orang yang memadu cinta semata-mata karena mencari ridha Allah Subhanahu Wata'ala.
Rabb..Kau tau bahwa hamba kerap goyah dengan hal itu.
i’tikad ini memang tidak mudah, bahkan dengan segala kekhilafan yang kerap menerpa,
aku merasa sebagai hamba hina yang tak berdaya,
hanya dengan hidayah-Mu lah segala i’tikad dan niatan bisa terealisasikan atau tidak.
jika ini baik menurut-Mu maka maka berilah hamba rahmat tuk mereguknya.

23 Juni 2011 pukul 8:58


Minggu, 25 November 2012

Buih Cinta Sang Musafir

Buih cinta sang musafir
Sebuah khitbah seorang ikhwan
Dua belas purnama kulalui dengan kerinduan
Tetap dia yang terbayang..
Ukhti, kau racun dan madu bagiku
Racun karna kau membuatku mabuk, menghilang dan terkapar dalam ketidak berdayaan
Kau pun madu
Karena hanya dengan serbuk sari senyumu
Duniaku menjadi manis, manis sekali
Ya Rabb, dalam perjalananku sebagai seorang musafir
Aku tersandung kecintaan pada makhluk
Ukhti…saat ini kukatakan padamu..
Maukah kau menjadi oasis dalam hidupku?
Menjadi telaga dalam haus perjalananku?
Menjadi orang yang halal untuk ku sentuh,
untuk kemudian kulindungi sampai tuhan memanggilku?
Walaupun aku tak tau apakah dia akan menjadi ma’mum dalam sujudku,
Menjadi ibu dari anak-anaku,
Menjadi bidadari dalam keluargaku,
Aku tak tau, yang aku tau aku menyukainya,
hanya itu….

Jumat, 23 November 2012

PUISI: Tangis Warnaku



Tangis warnaku
oleh rosyad elbantani

Tangis terulang beribu tahun,
diwarna dan mewarnai dunia,
menjadi simbol dan rentetan
jejak-jejak zaman,
menjadi penyejuk dan dahaga ksedihan,
menjadi bunga dan senyum keharuan,
menjadi teman dan musuh kesendirian,dan
menjadi "karena" dari sebuah permohonan..

PUISI: kemeja merah jambu ayahku



kemeja merah jambu ayahku

abi...
dulu seringkali aku melihat kemeja itu kau kenakan saat hari jum'at tiba,
dengan sarung motif kotak yang sudah lusuh,
serta sajadah merah yg diselendangkan dibahumu,
kau berjalan dengan gagahnya..
begitulah engkau yg sederhana, yang tegas, yang pekerja keras, yang penuh perhitungan dan yang cinta terhadap anak serta istrinya,
setiap lebaran tiba, jarang aku lihat kau mmbeli baju baru, kecuali kaos Juventus,
itu pun sebenarnya kau belikan untuk ku, yang pastinya jelas ku tolak,
karena selain kebesaran, aku jelas-jelas pendukung Inter Milan,
abi..
lihatlah, hari ini kemeja merah jambumu telah aku kecilkan, aku setrika dan kuberi pengharum.
kini kemeja ksayanganmu aku kenakan, ada agenda besar yang harus kulakukan saat ini,
dan aku ingin mengenang moment itu dengan kemeja merah jambumu melekat dalam tubuhku,
abi...
doakan lah anakmu ini agar diberi yg terbaik oleh Alloh yang Maha Pengasih,
abi..
akhirnya kau bisa melihat anakmu lulus kuliah

Selasa, 20 November 2012

PUISI: Hikmah Sang Pemulung




Hikmah Sang Pemulung
Oleh: Ahmad Rosadi, S.Pd (Socio-History Teacher of Daar el Qolam)  
Email: rosyadalbantani@gmail.com

Siang itu begitu terik, angkuh matahari membakar kerak dunia
Siang itu begitu terik, ucap bapak-bapak pembuang puntung rokok dijalanan
Siang itu begitu terik, keluh ibu-ibu pembuang kantong plastik ke selokan
Siang itu begitu terik, dengkur santri dalam tidurnya
Siang itu begitu terik, pun bagi pemulung bernama parjo
Dalam derik panas dan hawa ketiada berdayaan, sang pemulung mengais rizki di permadani kotor bernama Indonesia
Dijalan dia menemukan botol air mineral
Diselokan dia mengambil sandal jepit putus yang talinya hilang sebelah
Di pelataran masjid dia mengambil gelas air mineral bekas jamaah “ngopi”
“Indonesia memang Lahan yang menjanjikan dalam bisnis yang berkaitan dengan kotoran” Begitu bisiknya…..
Akupun termenung, Malu….