Minggu, 01 Desember 2013

Tekad Seorang Ikwan


Siapapun, seperti apapun dan bagaimanapun wanita yang kucintai, belum tentu akan aku nikahi.
tapi siapapun wanita yang ku nikahi,
akan kulimpahkan segala bunga rindu padanya,
kutuntun ia dalam hidayah Tuhan
dan kutaburi setiap inci perjalananya dengan bahasa cinta dan kasih sayang.
Insyaallah
11 Agustus 2010 pukul 10:26


Seretan Ilmu


Sahabat....
nun jauh diujung sana,
lautan ilmu menunggu untuk kita selami.
berjuta keindahan dan kemulyaan tersembunyi didalamnya.

siapkah kita untuk melebur diri?
berlari menyongsong impian itu,
mencoba berpeluh ketika yang lain berleha?

atau kita akan sama seperti mereka?
yang diam pada takdir perenggut diri?
pasrah pada ketidak mampuan dan lari dari kenyataan?

tidak,,,
tidak seperti itu sahabat,
boleh saja kaki ini lusuh,
kulit ini melepuh,
tapi jangan biarkan hati kita menjadi keruh,
yang pada akhirnya melebur semua asa dan harapan.

bermimpilah,
bertekadlah, 
dan perjuangkanlah,
selamilah ilmu dengan akal  yang Allah karuniakan kepada kita,
janganlah merasa putus asa, apa lagi terhina.

ingatlah..!!
tak ada nista dari orang yang haus akan ilmu dan kebesaran-Nya.
Wallahua'lam
21 September 2010 pukul 0:55


Untuk Calon Istriku


Rabb..lindungilah hamba dari fitnah wanita,
dan begitupun dengan calon istriku.
dalam hati aku bertekad hanya akan mencintai perempuan yang menjadi istri ku, bukan yang lain.
kalau ternyata yang menjadi istriku adalah gadis itu, maka jagalah dia, jagalah aku.
karena dialah orang yang akan saya limpahi segenap cinta dan kasih sayang yang saya miliki.
tapi siapapun dia yang menadi istriku, semoga kelak aku bisa membahagiakannya dan menggenggam tangannya erat-erat memasuki pintu surga.
tempat paling indah tuk orang-orang yang memadu cinta semata-mata karena mencari ridha Allah Subhanahu Wata'ala.
Rabb..Kau tau bahwa hamba kerap goyah dengan hal itu.
i’tikad ini memang tidak mudah, bahkan dengan segala kekhilafan yang kerap menerpa,
aku merasa sebagai hamba hina yang tak berdaya,
hanya dengan hidayah-Mu lah segala i’tikad dan niatan bisa terealisasikan atau tidak.
jika ini baik menurut-Mu maka maka berilah hamba rahmat tuk mereguknya.

23 Juni 2011 pukul 8:58


Rabu, 13 November 2013

Banten dalam Dimensi Sejarah

Banten dalam Dimensi Sejarah
(Sebuah Pembelajaran Penting dari Kampung Budaya untuk Banten dan Indonesia)


Sejarah mengungkap fakta. Sastra, seni dan arsitektur melestarikannya. Dan, setiap manusia mencari kebenarannya. Yulian Firdaus Hendriyana dalam pengantarnya dibuku Gajah Mada: Perang Bubat, karya Langit Kresna Hariadi.”

Penulis didepan spanduk acara Kampung Budaya
Sebagai seseorang yang diberi makan dari nasi yang ditanam ditanah Banten. Aku sempat “murtad” terhadap sejarah di wilayah paling barat di Pulau Jawa ini. Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah yang menempel setelah namaku lebih banyak diwarnai dengan riset yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejarah Banten masuk dalam prioritas ke-13 dalam list objek yang harus aku teliti. Seiring berjalannya waktu dan kembalinya jasadku ke bumi Banten. Batin ini ikut terseret untuk kemudian tersentak pada panggilan jiwa untuk memperdalam kembali sejarah dan kebudayaan Provinsi yang pada saat ini genap berusia 13 tahun.
Kesempatan mempelajari lebih dalam tentang Banten aku dapatkan pada kegiatan Kampung Budaya Nusantara yang diselenggarakan pada interval 08-10 November 2013 di Rumah Dunia, Serang. Dalam konteks sejarah, dari kegiatan ini setidaknya aku belajar dua hal, Pertama; Sebagian masyarakat Banten terlena akan romantisme kejayaan kesultanan dimasa lalu. Tentang keagungan Syeh Syarif Hidayatullah, tentang kebijaksanaan Sultan Hasanuddin, tentang kehebatan Sultan Agung Tirtayasa, tentang Indahnya Istana Sorosowan dan tentang makmurnya rakyat Banten tempo dulu. Ya, sekali lagi tempo dulu, “padahal permasalahannya bukan hanya terletak pada apa yang terdapat pada budaya dimasa lalu, tapi juga tentang apa yang harus kita lakukan untuk membangun kebudayaan kita sendiri, saat ini”, tegas Halim Hade, pemerhati sejarah Banten yang mengisi materi pada hari terakhir kegiatan kampung Budaya di Keraton Kaibon, Banten Lama.
Suasana diskusi tentang sejarah Banten
Kedua; Sebagai makhluk yang hidup dalam sebuah ruang kehidupan, maka secara otomatis manusia terikat juga oleh sebuah dimensi waktu. Dengan kata lain dalam menjalankan kehidupannya manusia haruslah melihat dan memperhatikan waktu yang telah, sedang dan akan ia alami kelak. Dengan mempelajari Sejarah Banten ada begitu banyak pengalaman masa lalu yang bisa dijadikan pedoman kehidupan yang berkebudaayan dan keberadaban. Nilai toleransi salah satunya. Bagaimana seorang pendiri kerajaan Banten Syeh Syarif Hidayatullah membangun sebuah Vihara yang bernama Avalokitesvara untuk para pendatang dari China yang memang mayoritas beragama Budha. Perasaan saling menghormati dan menghargai ini masih tetap terjaga bahkan sampai Kesultanan Banten tiada seperti saat ini. 
Peserta Kampung Budaya di Vihara Avalokitesvara
Kegiatan yang bekerjasama dengan Direktorat Sejarah dan Nilai  Budaya, Direktorat Jendral Kebudayan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ini sukses membuat para peserta “mendaur ulang” isi kepala mereka dengan pengetahuan dan pemahaman baru tentang menempatkan sejarah sebagai sebuah bagian penting membangun Banten disatu sisi dan Indonesia disisi lain kearah yang lebih baik.
Ingat, belajar memahami Sejarah memang tidak akan merubah masa lalu, tapi bisa memperbaiki masa depan.





Kamis, 17 Oktober 2013

Rumah itu Rumah Dunia


(Gol A Gong -empat dari kanan- bersama angota Kelas Menulis angkatan 22)
Atmosfer keilmuan, kerja keras, perjuangan, jurnalistik, sastra, idealisme, peradaban dan sedikit “kegilaan”. Begitu kira-kira yang bisa aku lukiskan tentang Rumah Dunia. Sekian lama tenggelam dalam romantisme sejarah tentang kejayaan  Kesultanan Banten dimasa lalu. Masyarakat Provinsi paling barat di Pulau jawa ini kemudiaan seakan lupa untuk membangun kejayaannya kembali. Sudah kadung tergambarkan dan lekat dalam ingatan tentang ketertinggalan manusianya. Tidak adil memang kalau kata-kata itu dilekatkan pada semua penduduknya. Karena masih ada sebagian dari putra Banten yang tergerak dan bergerak untuk memajukan setidaknya asal daerahnya ini.
Rumah dunia, ya Rumah Dunia. Tempat ini kemudian menjadi penggambaran bahwa para pejuang itu masih ada. Bahwa Agent of Change itu masih dilahirkan dan putra-putri terbaik bangsa ini belum punah ditelan zaman. Disinilah harapan untuk membuat Banten lebih baik bermuara. Bahkan tidak hanya Banten, ada arah yang terlihat oleh saya bahwa cahaya perubahan (kearah lebih baik) ini akan terpencar serta menjadi mercusuar peradaban keseluruh pelosok Indonesia, bahkan dunia.
Bukan, ini bukan khayalan. Apa yang kita bicarakan ini bukan mimpi seorang pemalas.  Karena mimpi para pejuang tidak dilakukan pada saat mata mereka tertutup. Mimpi Rumah Dunia dilakukan pada saat mata ini terbuka. Sehingga terlihat jelas bagaimana perjuangan dalam menggapai mimpi-mimpi itu dilakukan.

Rabu, 09 Oktober 2013

DAKWAH: Diantara Jeritan Hati atau Lillah Fillah



Perlu saya jelaskan sebelumnya bahwa artikel ini dibuat bukan karena sentimen pada satu pihak atau memposisikan sesuatu dengan konotasi hitam dan putih. Artikel ini dibuat lebih kepada menjembatani wilayah abu-abu yang ada diantara keaneka ragaman jalan dakwah setiap individu yang dipilih seseorang atau kelompok. dengan kata lain penulis tidak mengarahkan untuk menggeneralisasi pembenaran disatu pihak dan kesalahan dipihak yang lain.
Secara pribadi berdasarkan pengalaman dan pemahaman dari orang-orang yang saya jadikan  objek penelitian. Ternyata ada Sebagian ikhwan dan akhwat lajang, sering kali menuliskan artikel atau status yang berkaitan dengan jodoh. entah itu tentang bagaimana memilih jodoh yang baik, bagaimana akhwat itu mencintai dalam diam, bagaimana ikhwan itu memendam "hayya"
sampai waktu yang dia tetapkan nanti dan segala macam landasan filosofis, yuridis, moralis dan agamais. Sebagai pemerhati sosial saya merasa tertarik dengan fenomena ini.
rumusan masalahnya adalah apakah hal ini akan berlaku juga manakala akhwat atau ikhwan ini menikah kelak? atau hanya ditulis ketika mereka masih lajang saja? sehingga kemudian tulisan-tulisan ini ibarat poster yang memuat tulisan yang sebenarnya yaitu:
Hei..i'm single...call me..Quickly before I got married....!!!!  
atau dalam bahasa lain apakah tulisan-tulisan ini lebih cenderung ke arah DAKWAH atau
JERITAN HATI???
tulisan ini mungkin masih mentah dan landasan ilmiah nya masih sangat minim. maka bagi para santri mahasiswa mungkin ini bisa dijadikan skripsi dengan judul:
"KORELASI GALAU DAN STATUS DALAM PERJALANAN SEORANG AKTIVIS DAKWAH"
wallohualam

Rabu, 04 September 2013

Pahlawan Kesiangan

10 November, hari yang umum diperingati sebagai
hari pahlawan. Hari yang dikhususkan pemerintah
untuk memberikan a
presiasi lebih kepada mereka yang memang layak
disebut pahlawan. Tapi untuk tulisan ini saya tidak
punya keinginan untuk menuliskan sesuatu yang
bersangkut paut dengan kepahlawanan yang
“sebenarnya”. Saya ingin membahas sebuah tema
yang ringan dan sedikit keluar dari keumuman tapi
masih bersinggungan dengan pahlawan, walau
tidak terlalu dalam.
Tentu yang harus kita sepakati bahwa istilah
“pahlawan” yang disinggung dalam tulisan ini tidak
melulu tentang pejuang kemerdekaan atau mereka
yang berjasa kepada Negara. Ruang lingkup
pahlawan disini adalah tentang mereka yang mau
berjuang sesuai dengan kadar dan posisinya
masing-masing.
Inspirasi itu ternyata muncul dari pengasuh
Pondok Pesantren Daar el Qolam (DARQO) KH.
Syahiduddin. Beberapa waktu yang lalu, dalam
sebuah pertemuan beliau mengucapkan kata-kata
seperti ini: Lebih baik tidak terkenal tapi seorang
pahlawan daripada menjadi terkenal tapi bukan
seorang pahlawan.
“Binggo…….!!!” Ucap saya dalam hati. Akan
kutuliskan sebuah tema tentang seseorang yang
memilih populer dan terkenal saja, yang
mencitrakan dirinya hebat walau sebenarnya tidak
dan yang mengklaim prestasi seseorang sebagai
prestasinya. Tidak lain dan tidak bukan orang
seperti itu adalah Pahlawan Kesiangan.
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KKBI)
Pahlawan Kesiangandiartikan sebagai berikut:
[1]Orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah
masa sulit berakhir, [2] orang yang ketika masa
perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi
setelah masa peperangan selesai menyatakan diri
pejuang.
Dalam konteks kesantrian perilaku “pahlawan
kesiangan” ini tentu bagian dari akhlaq yang
tercela dan tidak pantas untuk dipelihara. Kita
menjauhkan diri dari menjadi pribadi yang
menonjolkan diri dengan motif pencitraan. Karena
citra baik itu bukan lahir dari kepalsuan tapi dari
sikap dan niat yang benar serta murni.
Sebagai seorang Santri yang notabene agent of
change kita diajar dan dididik untuk menjadi
pribadi yang mau berjuang dan berusaha, yang
mau berlelah-lelah disaat yang lain bersantai, yang
mau merencanakan masa depan bukan
direncanakan masa depan.
Jadi apakah kita akan menjadi pahlawan
kesiangan? atau pahlawan yang sebenarnya?