Minggu, 14 Februari 2016

Memaknai Perjalanan

Dalam perjalan Magelang - Keraton Ngajogjakarta Hadiningrat saya teringat tulisan Nur Fitri Hadi dalam Kisah-Islam, dia mengatakan bahwa para ulama-ulama tidak mencukupkan diri belajar di negerinya sendiri. Mereka bersafar, melangkahi jalan-jalan, menghilangkan ketidak-tahuan.
Kisah perjalanan mereka ini seperti dongeng. Karena mereka berjalan bermi-mil hanya untuk sesuatu yang menurut sebagian orang adalah kecil. Tantangan mereka pun berat dan fasilitas mereka tidaklah hebat. Perjalanan pun tetap beralangsung.
Lalu saya berkaca pada diri saya sendiri. Tidur di hotel, menggunakan bus yang nyaman untuk perjalanan, diberikan uang saku dan fasilitas lainnya saya rasakan. Kalau sekiranya perjalanan ini tak bisa dimanfaatkan untuk menambah ilmu dan iman, betapa rugilah saya.
Maka disisa perjalanan ini adalah saat yg tepat untuk memperbaiki kualitas perjalanan. Memaknai ulang semuanya dan merekontruksinya.
Ah, perjalanan sejatinya adalah pencarian, yang tersimpul dalam lekuk-lekuk dan sudut-sudut kehidupan.
Rosyad_elbantani

Kutitipkan


Tak pernah seperti ini,
Berarak merenda langit,
Menggigil membasuh tanah,

Bayu masih meronta,
Mengutuk siapa saja,
Menampar apa saja,
Bahkan pada purnama, yang memang belum saatnya...

Teruntuk kau kutitipkan,
Akan arti yang terjemahkan,
Akan pertanyaan yang terlontarkan,
Akan sabda yang diyakinkan,
Dan tentang kesetiaan yang diucapkan...

Lalu semuanya bersimpuh
Pada Tuhan yang menjanjikan segalanya....

Jogjakarta, 7 Februari 2016
Rosyad_elbantani

Ayah


Dalam perjalanan Jogja-Parungpanjang, saya membaca buku yang baru saja dibeli rekan saya, Mr. Amin. Judulnya sederhana namun menarik; MENJADI SEORANG AYAH, dubumbui sebuah keterangan kecil dibawahnya; Panduan Praktis Untuk Para Ayah. Maka tak ada alasan bagi saya untuk tidak meminjam dan membacanya.
Baru sampai pada tahap kata pengantar, buku ini sukses membuat saya merenung. Grace Ketterman, penulis buku ini mengatakan:
"Dalam bidang-bidang dalam kehidupan dimana tiap-tiap jenis kelamin atau individu memang secara alami lebih sukses, seseorang tidak memerlukan banyak dukungan. Namun, dalam arena apapun juga dimana si anak harus berjuang, dia membutuhkan dan hanya berkembang dengan pesat atas adanya dorongan dari keterlibatan kuat seorang ayah".
Frasa diatas bermakna sangat dalam, bahwa peran ayah memang sangatlah kuat. Seorang ahli psikologi, John Snarey yang hasil penelitiannya ditampilkan dalam buku ini mengatakan bahwa anak laki-laki sangat membutuhkan peran ayah dalam perkembangan sosial, emosional dan intelektualnya.
Maka mari berusaha menjadi ayah yang hebat kawan..

Rabu, 07 Januari 2015

Juli dan Deseember Kehidupan

Juli…Kini kau siap pergi, melepaskan tangkai pertangkai jati dirimu…
Juli, kini sejatinya aku mengerti, bahwa menuntutmu berarti menuntut kesalehan keimamanku…
Juli, kini tangkai yang kau lepas kembali padaku, berserakan dan mengotori halaman rumahku…

Juli, saat tiba kau benar-benar pergi, kuharap tangkai tu tegak berdiri, agar tak mati terpanggang mentari…
Juli, kini kisahku dengan juni dimulai pada Agustus ini…
Semoga kelak tangkai itu berbunga, dan menguapkan aroma cinta yang harum mewangi…
Nanti, pada Desember kehdupanku

Sabtu, 26 Juli 2014

ORAL TRADITION VS PUBLIC SPEAKING TRADITION


(oleh: rosyad_elbantani)
Sebagian besar manusia memiliki kemampuan untuk berbicara, baik dia anak kecil, remaja maupun dewasa.  Kemampuan bicara juga berlaku untuk hampir semua profesi baik yang dianggap bawah oleh  masyarakat, menengah maupun tinggi. Namun, manakala kata “berbicara” ditambahkan dengan kata lain yaitu “di depan umum”, maka sebagian manusia yang memiliki kemampua bicara itu akan mundur teratur. Kemampuan berbicara di depan orang banyak atau dikenal juga dengan istilah Public Speaking (PS), memang tidak dimiliki oleh banyak orang. Biasanya orang yang memiliki kemampuan ini sering menjadi pemimpin dalam kelompoknya.
Sebagian besar komentar yang muncul manakala ditanyakan alasan kenapa PS tidak dimiliki banyak orang adalah deretan kata-kata berikut; gugup, tidak percaya diri, kehilangan kata-kata dan tegang. Normal memang, karena PS merupakan sebuah sarana seseorang untuk berinteraksi dengan banyak individu dalam satu waktu sekaligus. Hal ini sulit mengingat sifat heterogen dari setiap individu. Bagaimana kita seorang diri harus menghadapi manusia yang pasti berbeda isi kepalanya.
Segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, termasuk kesulitan dalam PS. Bahkan dalam konteks masyarakat Indonesia Nenek Moyang kita sudah “mewariskan” hal ini dari dahulu. Jika kita melihat budaya dan sejarah bangsa ini, ada sebuah hipotesis yang bisa diambil. Kesimpulan awal itu berupa fakta bahwa masyarakat Indonesia memiliki oral tradition yang cukup tinggi. Hal ini bisa kita lihat dari begitu banyak dongeng, folklore, fable, fairy tale dan myth yang lahir dari berbagai daerah.
Memang fakta-fakta tadi tidak serta menjadi landasan bahwa masyarakat Indonesia sangat ahli dalam PS, karena baik dongeng, mythe dan lain-lain lebih pada pembuktian bahwa orang Indonesia seneng ngomong, bukan seneng ngomong ke banyak orang. Namun, selayaknya budaya yang bisa berkembang, maka oral tradition-pun bisa kita kembangkan menjadi Public Speaking Tradition. Why not?


rosyad_elbantani adalah nama pena Ahmad Rosadi. Laki-laki kelahiran Tangerang seperempat abad yang lalu ini aktif di diberbagai organisasi dan institusi. Selain sebagai pendidik di sekolah formal, beliau juga tercatat sebagai Jurnalis dan Relawan Rumah Dunia Serang, Trainer, pengelola TBM Pustaka Mandiri, Komunitas Rumah Cerdas Tangerang dan Sanggar Bintang Bogor. Penulis bisa dihubungi melalui telepon 08987059359

*Essai ini saya sampaikan dalal pelatihan public speaking tanggal 14 Juli 2014 di Rumah Dunia Serang dalam acara "Nyenyore"


Kamis, 15 Mei 2014

Ifa dan Hasan #Part 4

#Ifa

Suara BoA mengalun dari ponsel mengagetkanku. Panggilan dari Makruf, atasanku. Suara bas nya langsung terdengar begitu sambungan telepon itu kuterima. Panggilan tugas. Oo, tega sekali si Makruf! Belum sempat kurebahkan tubuh lepas menunaikan tugas liputan di Cirebon, ia sudah mengajukan tugas baru padaku! Malas, kudengarkan saja ocehannya itu sementara aku menghidupkan layar kaca.
Wajah kuyu seorang reporter langsung menyapaku. Sebuah breaking news. Sementara Makruf masih berkicau di ujung sambungan telepon dan reporter itu terus membacakan berita terhangat, aku melayangkan pikiran.
Hasan. Aku melihatnya beberapa kali sebelum hari ini. Semenjak aku ditugaskan menulis sejarah & budaya Cirebon beberapa pekan lalu, aku sering pulang-pergi Bandung-Cirebon. Isu tentang pemekaran wilayah Cirebon dan beberapa kabupaten di sekitarnya menjadi provinsi baru rupanya menarik bagi Makruf. Aku ditugasinya menganalisis kabupaten yang secara kultural berbeda dengan induk provinsinya. Dan Hasan, dalam setiap perjalanku menggunakan Ciremai Ekspres, selalu datang mengusik waktu istirahatku.
"... dan pemirsa, polisi telah memasang garis polisi di lokasi meledaknya bom rakitan di Jalan Balong Gede Bandung. Saat ini evakuasi terhadap para korban tengah dilakukan..." 
Bertepatan dengan kamera yang melakukan zoom-in, kesadaranku kembali. Dalam dua detik sorotan kamera itu, kutangkap bayangan sosok yang tadi hinggap dipikiranku. Kemeja biru cerahnya tertutup abu hitam, di wajahnya ada bercak darah. 
"Hai Ifa! Kamu dengar aku tidak?! Cepat ke Balong Gede! Berikan aku berita!"

Aku terpaku. Hasan?

#Hasan

Kabutkah dia? Aku tak yakin. Bagaimana mungkin ia begitu nyata?. Ataukah kamuflase ketakutan yang menjelma bak cendawan dimusim hujan? Menjamur dan melebur dalam ketidakberdayaanku pada mahkota takdir?
Sungguh hina, sungguh gembira. Aku terpekur dan bersyukur atas kemurahan tuhan pada ragaku, pada jiwaku, pada nafasku, pada hidupku dan kemaha lemahanku. Aku meronta dalam asa dan tak berdaya dalam nyata.
“sudah baikan de?”.
Oh inikah sosok penghampun syurga, penjaga pintu ruhaniah?
“De, bisa dengar suara saya?”
Tidak, bukan dia. Tapi apa? Tapi Siapa?
“Untung selamat, kalau saja ade tetap didalam mobil itu, mungkin ceritanya akan lain”.
Oh Zat penggenggam jiwa, yang hidup matiku ada pada kekuasaan-Nya. Sungguh aku bersyukur atas apa yang menimpaku. Betapa aku masih diberikan kesempatan bernyawa sampai saat ini. Agar tertebus dosa-dosaku, terusahakan cita-citaku dan tercintai kecintaanku.
Tapi siapa lelaki itu? Yang memanggilku disaat-saat kritis? Jika saja bukan karena panggilannya. Aku mungkin akan bernasib sama dengan penumpang lain yang berada di dalam angkot. Gosong terbakar!!.
Segalanya memang berjalan cepat laksana role film manual yang diputar di bioskop. Tanpa istirahat dan tanpa jeda. Tak lama setelah aku keluar dari angkot dan menuju sosok yang memanggilku di seberang jalan, ledakan itu terjadi. Aku tak sempat mengenali laki-laki berwajah sendu bertopi coklat itu. Sama halnya seperti aku tak sempat menghindari tiang kabel telpon berwarna hitam yang “mencium” kepalaku. Daya dorong hempasan dan efek dari ledakan mobil itu membuat tubuh kurusku terpental sejauh tiga meter. Terbang tak terkendali layaknya layang-layang dipermainkan angin sore dibulan Desember. Aku masih sadar ketika suara rintihan minta tolong para korban dan derap langkah orang-orang mendekati tempat kejadian. Suara sirine yang mengaung, jeritan pejaga toko, tangisan ibu-ibu dan segala macam suara yang secara frekuensi bisa tertangkap telinga manusia, bersatu membentuk sebuah simfoni yang rumit. Semuanya mengalun, menghentak dan menyuarakan satu nada diujung lagunya; Panik.
Aku beruntung, walau kepalaku berdarah, siku tangan kiri terpelintir dan perut serta kakiku ngilu, aku selamat. Karunia Allah kurasakan betul saat itu. 15 menit setelah kejadian sudah banyak orang yang berdatangan. Termasuk beberapa wartawan yang bisa dikenali dari kartu pengenal yang mereka kenakan. Adakah Ifa disana? Salah satu jurnalis yang aku kagumi. Liputan dan artikelnya selalu manarik dan dalam, berisi tapi mengalir, tajam tapi tidak menggurui. Aku yang kuliah jurusan jurnalistik sangat ingin tahu seperti apa sosok wanita ini. Kalau tidak gugup, aku mungkin akan meminta tanda tangannya jika bersua nanti, ha…ha… Sempat-sempatnya aku berfikir kocak seperti itu ditengah-tengah musibah yang menimpa diriku. Khayalanku tentang Ifa kemudian kabur, samar dan abu-abu. Ternyata bukan Ifa, tapi kesadarankulah yang menghilang. Mobil putih bergaris merah adalah ingatan fotografi terakhir yang kuingat pada peristiwa di jalan Balong Gede. Setelah itu semuanya hitam dan tak tersadarkan sampai aku kembali terbangun saat ini. Lagi-lagi dengan nuansa putih yang menyambut, Rumah Sakit.
Bayangn Ifa menguap, aku penasaran dengan laki-laki yang memanggil dan memintaku keluar dari angkot.

“Lelaki itu tiada mempunyai wajah yang tetap, tetapi sebenarnya ia
ada. Ia selalu bersembunyi di balik rerimbunan kalimat yang
dibuat di jalan-jalan sejarah. Ia mengamati langit, bumi, matahari,
rembulan, kepekatan dan darah dari balik gumpalan kabut yang
diciptanya sendiri….
Siapakah… lelaki… itu? Di…di… mana… dia?"
Aku teringat tulisan Helvy Tiana Rosa. Oh…Pertanyaanmu dan pertanyaanku serupa mba!!
Siapakah… lelaki… itu? Dimana… dia?

Ifa dan Hasan #Part 3

#Ifa

Bandung malam hari. Kata orang, udara Bandung makin hari makin pengap dan panas akibat perusahaan otomotif yang ingin meraup keuntungan dari angka produksi kendaraan yang selalu
meningkat. Bagiku, udara Bandung tetap selalu membuat bulu kudukku berdiri, dingin hingga menyusup ke tulang. Hanya ada dua orang yang duduk dalam angkutan kota berwarna ungu ini. Keberadaan penumpang yang hanya dua orang ini seolah menjadi alasan bagi sang supir untuk melajukan mobil pabrikan Jepang ini dengan kecepatan maksimum. Hingga melewati Unisba, tak kunjung ada penumpang lain yang turut serta. Si supir mulai putus asa.

#Hasan

Aku masih terdampar diangkot depan warung Bu Imas. Salah satu tempat kuliner terkenal di kota Bandung. Warung yg tak pernah sepi peminat. Begitu hasil pengamatanku. Padahal disekitaran jalan Balong Gede saja, tempat warung ini berada, setidaknya ada empat bangunan berwarna kuning dan bertuliskan nama Warung Bu Imas didepannya. Dan empat-empatnya selalu ramai pembeli. Aku sendiri pernah dua kali makan siang di tempat ini. Kesimpulannya; Maknyuus.
 Maka, jika ke Bandung dan tidak mampir kewarung Bu Imas rasanya sangat disayangkan. Angkot Kalapa-Dago yg kunaiki sudah 20 menit nongkrong di jalan Balong Gede. Lewat pukul 21. 00. Mobil menuju terminal Dago di ujung jalan Ir. H. Juanda memang kurang semarak. Hal ini bisa dimaklumi karena toko-toko pakaian yg berderet disepanjang jalan Dewi sartika yg menghubungkan Masjid Raya Bandung dengan terminal Kalapa sudah mulai sepi. Penumpang baru akan ramai ketika memasuki lampu merah di depan Bandung Indah Plaza. Jam segini, pusat keramaian Bandung memang akan beralih ke kawasan Bandung Utara. Disana ada banyak tempat nongkrong yang asyik. Dago Plaza, bukit bintang, Resor Dago, Setia Budi dan Lembang adalah sebagaian dari destinasi favorit menghabiskan malam. Ban mobil angkot baru akan berputar, ketika suara di sebrang jalan memanggilku.
"Hasan...hasan....Turun!!"